Bird Productions Home
Home Intro Documentary Home Photos Videos Music Order
DOCUMENTARY HOME | PRODUCTION TEAM | NEW PROJECTS | PRESS | BROCHURES| CONTACT | SEARCH

Press Releases and Media Coverage - View our new brochures and artwork

Bali Post - June 26, 2005

KADEK DEWI ARYANI
KETERAMPILAN HARUS DIKEMBANGKAN


DULU, orang mungkin mengenal Kadek Dewi Aryani ini sebagai penari Bali yang piawai menarikan "Oleg Tamulilingan" atau tari Legong klasik dengan berbagai tema. Namun kini, Dewi -- demikian ia biasa disapa -- telah "bermuka dua". Di satu sisi, ia tetap mempertahankan seni tradisi Bali dan di lain sisi alumnus Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) tahun 2001 ini sedang merambah dunia akting serta tarik suara. "Mungkin ini suatu kebetulan saja. Sebelumnya, saya tidak pernah berpikiran akan menjadi penyanyi," kata Dewi polos.

Dara kelahiran Karangasem, 25 Februari 1977 ini kini sudah hampir menyelesaikan 12 lagu yang rencananya direkam. Lagu yang dinyanyikan sebagian lagu pop berbahasa Indonesia dan sebagian lagi berbahasa Inggris yang kebanyakan bertema alam. Dalam album bertajuk "Bungan Bali" ini Dewi didukung oleh Puspa dan Ayu yang juga sebagai penyanyi pendatang baru. Musiknya digarap oleh Kevin Bird, seorang musisi dari Paris.

Album perdana Dewi yang dirilis dalam format VCD dan akan diedarkan di beberapa negara ini, beberapa liriknya ada yang dibuat Dewi sendiri. "Saya sudah menyelesaikan rekaman lengkap dengan video klipnya. Syuting sebagian dilakukan di Hawaii dan sebagian di Bali," sambung penghobi menyanyi, menari, dan melukis ini.

Pemilik tinggi 160 cm dan berat 48 kg yang suka warna pink, hijau muda dan hitam ini mengaku, sebelumnya ia sudah menyelesaikan satu album rekaman bertajuk "Calling You". Album ini merupakan sekar rare dengan menampilkan 22 lagu anak-anak yang masih melekat di kehidupan masyarakat Bali.

Sesungguhnya, penyuka sayur plecing ini mengaku, sedikit pun tidak memiliki pengalaman menyanyi. Ia hanya biasa melantunkan tembang-tembang lewat pertunjukan dramatari Arja yang memang berbeda dengan menyanyi lagu pop. Menurut Dewi, untuk lagu pop ini ia harus belajar mengatur napas, sehingga dalam mengeluarkan suara tetap bagus.

Lalu, mana yang lebih sulit, menyanyi lagu pop atau matembang di Arja? "Keduanya sulit. Kalau di Arja, meski sudah bertahun-tahun menekuninya, belum juga saya merasa memiliki suara yang pas. Apalagi menyanyikan lagu yang baru saya geluti, jelas perlu lebih banyak belajar. Meski demikian, sulitnya dalam pertunjukan Arja tidak hanya matembang, tetapi juga harus mampu mengekspresikan lagu yang dibawakan serta dituntut mampu berteater di atas panggung," papar penari yang sudah melakukan lawatan ke Jepang, India, London, Korea, Los Angeles, Amsterdam, Paris, dan Belgia ini.

Di samping itu, putri kedua dari empat saudara pasangan I Nyoman Kadjil dan Ni Wayan Darpini ini juga menekuni dunia akting. Sekarang ia tengah sibuk syuting film dokumenter berjudul "Dewi, Portrait of a Balinese Dancer" tentang Dewi sebagai penari dengan background budaya Bali. Film dalam format VCD dan DVD ini khusus mengangkat kehidupan Dewi dari usia anak-anak hingga menjadi penari terkenal. Di samping itu, film yang terdiri dari lima episode -- masing-masing berjudul "Dragonly", "Temple", "Village", "Talk About", dan "Family" -- ini juga mengangkat keindahan alam dan budaya Desa Junjungan, Ubud, yang merupakan tempat tinggal Dewi.

Kegiatan lainnya, Dewi kini sibuk latihan untuk pentas tari di Taman Budaya Denpasar serangkaian acara Pesta Kesenian Bali (PKB). Di PKB nanti, pengidola Candri dan Sija -- seniman Arja dan dalang -- ini menampilkan garapan tari kreasi baru ciptaannya yang berjudul "Legong Api" dan "Dara Dewi". Pentas ini akan dibawakan Sanggar Seni Nritta Dewi Ubud, miliknya, pada Kamis (30/6) mendatang. Sebelumnya, tari ciptaan Dewi yang lain berjudul "Gringsing" telah dibawakan oleh grup seniman dari Amerika pada Sabtu (25/6) kemarin.

Menurut pengagum penyanyi Melly Goeslaw ini, tari kreasi baru ciptaannya itu tetap berpatokan pada gerak-gerak tari Bali. Tari "Gringsing" mengambil inspirasi dari gringsing yang ada di Tenganan. Dewi terinspirasi dari garis-garis kain yang saling mengikat, ada yang melengkung, melingkar, vertikal dan horizontal yang sungguh tampak indah. Pada tari "Dara Dewi", aku Dewi, idenya muncul ketika mengadakan misi kesenian ke negeri Thailand. Di negeri itu, Dewi melihat masyarakat yang melakukan sembahyang di temple.

Sedangkan untuk tari "Legong Api", Dewi mengatakan mendapat ide setelah menyaksikan pertunjukan Wayang Wong khususnya pada tokoh kera. Gerak-gerak kera itu diangkat ke dalam tari yang dipadukan dengan gerak Sanghyang Dedari dan Sanghyang Jaran. Tari ini dibawakan oleh 17 penari wanita dengan iringan gamelan gender wayang, semarandana dan cak. "Geraknya juga terinspirasai dari lukisan Lempad, Ida Bagus Made dan Ida Bagus Anom. 'Legong Api' lebih mementingkan energi dari api itu sendiri," kata Dewi yang baru-baru ini menampilkan tari kontemporer berjudul "Gre" di Giok, Singapadu.

Ternyata, di dunia model, Dewi juga melenggang. Ia sering juga tampil sebagai model memperagakan produk dari sebuah perusahaan perhiasan perak terkenal di Bali. Mula-mula sebagai model iklan, selanjutnya dipercaya tampil untuk memperagakan barang-barang produk itu dalam ajang fashion berkenal internasional, "Bali Fashion Week" (BFW) di Bali dan Singapura. Di ajang BFW ini, awalnya, Dewi hanya membuat koreografi untuk karya Nyoman Cerita. Namun, mulai BFW IV, ia langsung sebagai koreografer tersendiri dengan tema tenunan Bali.

Sebagai alumnus STSI, penggemar busana casual ini mencoba berkomentar bahwa alumnus STSI itu harus tetap eksis sebagai seniman. Di samping itu, para alumnus STSI harus bisa membuka lapangan pekerjaan sendiri sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Menurutnya, keterampilan harus dikembangkan di masyarakat. "Kita bisa menyewakan kostum tari, merias, membuat sanggar dan kalau mau berkarya saja. Kalau tidak bisa di Bali, kan bisa dipromosikan di luar daerah. Zaman sekarang susah mencari pekerjaan, apalagi untuk menjadi PNS, yang tentu memerlukan sedikit lulusan STSI. Kemudian tamatan yang sekian jumlahnya itu tentu akan megarang," kata Dewi. Ya, memang bener tuh.... (buda)

Home Intro Documentary Home Photos Videos Music Order
Bird Productions Home